Senin, 16 Maret 2020


Contoh Pidato Aksioma Bertema Peran Pemuda dalam Memajukan Bangsa


  
(sumber foto : https://www.kompasiana.com)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Yth. dewan juri AKSIOMA
Yth. rekan-rekan satu perjuangan yang saya sayangi
serta hadirin sekalian yang berbahagia.


Tiada kata yang pantas kita ucapkan selain puji syukur kepada Ilahi Rabbi biqoulinalhamdulillah, karena pada pagi yang cerah ini kita dapat berkumpul dan bermuwajjahah di sini dalam keadaan sehat wal afiat. Kedua, sholawat maassalam semoga selalu tercurah pada junjungan kita nabi agung Muhammad S.A.W. yang selalu kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Hadirin yang berbahagia...
Tibalah kita di penghujung bulan Oktober. Bulan Oktober adalah bulan paling tepat untuk kita para pemuda untuk kembali membakar semangat kita. 88 tahun yang lalu, tepat tanggal 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda Indonesia dengan semangat yang tak pernah padam mulai menapak jejak sejarah kebangkitan pergerakan persatuan di Indonesia. Tanah air yang satu, bangsa yang satu, serta bahasa persatuan yang selalu dijunjung tinggi bukanlah hanya sebuah ikrar yang terucap di mulut saja.  Ikrar tersebut pastilah merasuk di setiap kalbu pemuda Indonesia kala itu sehingga perjuangan mereka bisa terus berkesinambungan dan mengantar pergerakan-pergerakan di Indonesia un tuk bersatu menjemput kemerdekaan.

Hadirin yang berbahagia...
Peran pemuda dalam memajukan bangsa ini tak akan pernah hilang dari rekam sejarah. Kita tak kan bisa melupa pada peristiwa proklamasi yang menjadi titik awal kemerdekaan bangsa Indonesia. Peristiwa itu juga tak lepas dari peran pemuda yang kala itu menggiring Soekarno-Hatta untuk mempercepat proklamasi. Lagi dan lagi, darah juang pemuda yang selalu menggeliat menjadi penyumbang terbesar bagi kemerdekaan Indonesia.

Hadirin yang berbahagia....
Masih banyak lagi peran pemuda dalam sejarah negri ini yang tak akan bisa kita bahas dalam waktu yang singkat ini. Besarnya peran pemuda di masa lalu, mulai dari pergerakan Budi Utomo, Sumpah Pemuda hingga peristiwa Rengasdengklok seharusnya menjadi cambuk bagi kita para pemuda untuk membakar semangat juang kita. Generasi muda bukan hanya sekedar kumpulan anak-anak muda saja. Tapi lebih dari itu, henerasi muda adalah mereka yang mampu menggantikan generasi sebelumnya dan mampu membuat perubahab ke arah yang lebih baik. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, generasi muda seperti apa yang mampu melakukan perubahan? Apakah mereka, para pemuda yang lalai dalam belajar yang hanya datang dan pulang sekolah tanpa menyalakan pikir mereka? Apakah mereka, para pemuda yang hanya gemar berfoya-foya? Ataukah mereka, para pemuda yang lebih mengagungkan bangsa lain dengan dalih kekinian? Tidak! Mereka adalah pemuda-pemuda hebat yang sangat sadar bahwa tanah negri inilah yang menghidupi mereka sejak lahir! Mereka sadar bahwa Indonesia terlalu besar untuk diremehkan dan terlalu mulia untuk dipinggirkan!

Hadirin yang berbahagia...
Masih ingatkah kita dengan perkataan founding father kita, “ Beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia!”. Hal itu sangat menegaskan betapa besarnya  potensi pemuda dalam mengambil peran untuk memajukan bangsa. Baik buruknya suatu bangsa dilihat dari kualitas pemudanya, karena pemuda adalah pewaris bangsa yang akan menjadi penerus pendahulu di masa yang akan datang. Peran pemuda di era modern seperti ini bukanlah untuk mengangkat senjata apalagi merangkai taktik perang.  Tapi, yang diperlukan adalah otak yang menghasilkan ide dan gagasan yang disertai dengan sikap jujur dan pantang menyerah.  Di era yang serba modern seperti ini yang diperlukan para pemuda adalah pendidikan yang berkualitas agar bangsa kita tidak tertinggal oleh bangsa lain. Kita harus selalu sadar, kemajuan bangsa tidak mungkin bisa diraih dalam semalam secara instan. Kemajuan bangsa sangat ditentukan seberapa besar semangat dan usaha yang tak pernah putus dari para pemudanya.

Hadirin yang berbahagia...
Sudah saatnya pemuda mulai melangkah untuk berkontribusi mewarnai kemajuan bangsa ini. Jika hidup hanya sekedar hidup, babi liar di hutan pun juga bisa hidup. Jika bekerja hanya sekedar bekerja, sapi dan kerbau pun juga bisa bekerjaa. Kita, para pemuda Indonesia haruslah menjadi pribadi tangguh yang selalu bekerja dengan cerdas serta santun demi kemajuan bangsa Indonesia tercinta.Akhirnya, marilah kita tatap masa depan dengan penuh harapan dan penuh semangat.
Jayalah negriku, majulah bangsaku, Indonesia!

Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf jika ada salah dalam tutur maupun laku saya.
Wabillahi taufiq wal hidayah


Wassalamualaikum Wr. Wb.


Contoh Teks Ceramah / Pidato Aksioma Birrul Walidain / Menghormati Orang Tua dan Guru



Ceramah/Pidato Bertema Birrul Walidain/ Berbakti kepada Kedua Orang Tua dan Guru



السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

الحمدلله رب العلمين و به نستعين على امورالدنياوالدين اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه و بار ك عليه
Yth. Dewan Juri Aksioma
Rekan-rekan Seperjuangan yang Saya Banggakan
serta Hadirin Sekalian yang Berbahagia
            Tiada kata yang pantas kita ucapkan selain puji syukur ke hadirat ilahi rabbi biqoulinalhamdulillah karena pada pagi ini kita dapat bermuwajahhah di sini majlis dalam keadaan sehat wal afiat. Amin ya rabbal alamin
            Tak lupa sholawat ma’assalam semoga selalu tercurah pada junjungan kita nabi agung Muhammad S.A.W. yang selalu kita nantikan syafaatnya kelak di hari kiamat.

Hadhirin hadhirat rahimakumullah..
            Orang tua, dan guru. Begitu lekatnya sosok mereka di kehidupan kita sehingga kita tak kan mampu menganalogikan jasa mereka secara sempurna. Begitu besarnya kedudukan mereka sehingga dalam Al Quran banyak sekali dicantumkan kewajiban anak terhadap orang tua dan guru. Salah satunya adalah Q.S. Al Isra’ ayat 24.
وبالوالدين احسانا
 “Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.”
Ayat tersebut sudah sangat menegaskan kewajiban seorang anak untuk selalu menghormati serta berbuat baik pada bapak/ibunya. Namun, di zaman modern seperti ini istilah hormat pada orang tua termasuk guru terkadang malah tidak dihiraukan oleh kawula muda. Mereka lebih menyayangi smartphone mereka, mereka lebih menghormati sosial media mereka, mereka lebih mengagungkan nafsu mereka daripada orang tua mereka. Naudzubillah. Banyak sekali anak yang tidak bisa menghormati orang tua mereka. Atau bahkan, kita pun termasuk anak yang belum bisa menghormati orang tua. Disuruh menyapu, kita malah asyik sms-an. Disuruh mijitin, kita malah bergaya seakan kita lebih lelah dari pada bapak ibu. Dan masih banyak lagi. Lucu memang jika dipikir lebih dalam lagi. Kita, yang punya banyak hutang budi pada oran tua justru sering menjadi pemeran utama yang membuat orang tua kita sedih atau bahkan murka. Padahal Abdullah bin Umar R.A berkata
ابكاءالوالدين من العقوق
 “Membuat orang tua menangis termasuk bentuk kedurhakaan!”
Kita pun harus selalu ingat pada pesan Rasulullah S.A.W. “Ridha Alloh tergantung ridho orang tua. Dan murka Alloh tergantug pada kemurkaan orang tua.” Masya Allah. Jika kita tak bisa mendapatkan ridho orang tua, akan jadi apa hidup kita ini?! Tentu tiada damai karena ridho orang tua adalah segalanya.

Hadhirin yang inshaAllah dimuliakan oleh Alloh...
            Berkenaan dengan bakti pada orang tua, ada sebuah cerita dari sahabta Umar R.A.. Suatu hari beliau didatangi oleh seorang lelaki. Lelaki tersebut adalah anak dari wanita renta yang lumpuh total. Ia bertanya pada Umar, “Ya Amirul Mukminin, apakah saya masih belum bisa membayar hutang budi pada ibu saya setelah saya merawatnya dengan baik selama berpuluh-puluh tahun?” Umar menjawab, “Belum! Kamu belum bisa membayar hutang budimu pada ibumu.” Lelaki itupun bingung kemudian bertanya lagi, “Kenapa wahai Umar? Padahal baktiku ini sangatlah besar dan berat!” Umar pun menjawab, “Kasih ibumu sangatlah berbeda dengan kasih yang kau miliki. Ketika kau kecil, ibumu merawatmu dengan penuh harap agar kau segera tumbuh besar melihat dunia. Namun kau merawat ibumu dengan harap agar ibumu segera kembali padanya dan beban yang kau rasa berat itu segera hilang! Masya Allah... Begitu kejamnya kasih yang kita miliki. Sangat jauh berbeda dengan kasih sayang ibu kita. Sungguh sebuah kedurhakaan besar jika kita sampai membuat orang tua kita setelah semua peluh yang mereka persembahkan untuk kita. Begitupun pada guru kita yang tak henti-hentinya membimbing kita, karena guru adalah orang tua kita setelah bapak dan ibu.

Hadhirin Walhadhirat Rahimakumullah...
Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang pengalah. Maka dari itu, mari kita belajar menyayangi serta menghormati orang tua serta guru selagi mereka ada. Karena jika mereka tinggal nama, penyesalan yang akan menyesakkan dada kita sepanjang hidup.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat untuk dunia akhirat kita. Mohon maaf jika ada khilaf. Undzur ma qola wa la tandzur man qola. Lihatlah apa yang disampaikan , jangan melihat siapa yang menyampaikan.

Wabillahi taufiq walhidaayah
Warridho wal inaayah
والسلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Jumat, 08 November 2019

Cerpen "Merupiahkan Jasa Bunda" Karya Najla Syifa Hudzaifah (Kumpulan Cerpen Siswa MA Abdulloh)


                                     Merupiahkan Jasa Bunda
            Kakak! Kakak! Kak Syilla.” teriak Bunda yang terdengar hingga ke penghujung kamar Syilla. Syilla yang saat itu sedang mengerjakan tugas, dengan segera menghampiri Bunda yang sedang memasak di dapur. “Iya,Bun.Ada apa?” tanya Syilla. “Kak, apa harus Bunda mengeraskan volume suara Bunda buat manggil Kakak? apa harus sampai 3 kali Bunda manggil Kakak, baru Kakak menghampiri Bunda?” ujar Bunda dengan tegas. Syilla hanya termenung dan berkaca-kaca ketika Bunda selesai membentaknya. “Iyaa Bun. Maafin Syilla, tadi Syilla lagi mengerjakan tugas, saking fokusanya jadi Syilla tak mendengar begitu jelas suara Bunda.”  jawab Syilla dengan terbata-bata. “Bunda harap, Kakak bisa memahami apa yang Bunda bilang, kakak harus menjadi anak yang berbakti. Yasudah, maafkan Bunda karena tadi sudah berkata kasar. Sekarang Bunda minta tolong Kakak buat jagainArsya, Bunda sayang Kak Syilla.” Bunda Ifa pun memeluk Arsyilla dengan hangat.
            Ya begitulah keseharian gadis cilik yang kini duduk di bangku SD kelas 3. Sebagai anak pertama dan mempunyai adik kecil yang bernama Arsya yang kini  masih berumur 2 tahun, Syilla di didik untuk menjadi seorang kakak yang baik dan mandiri, agar dapat menjadi teladan untuk adiknya.
Keesokan harinya...
            “Ayah, Bunda.. Syilla berangkat sekolah dulu ya! Assalamu’alaikum.” “Iya Nak,hati-hati ya.” ucap Ayah kepada Syilla. “Kak,yang fokus saat guru menerangkan pelajaran. Jangan jajan sembarangan, bekalnya di habiskan.” nasihat Bunda. “Ok Ayah, Ok Bunda!” jawab Syilla dengan semangat dan segera bergegas menuju sekolah.
            Panas mentari pun mulai menyengat tepat di atas kepala dan artinya jam pulang sekolah Syilla kini tlah tiba. Karena jarak antara rumah Syilla dengan sekolahnya berdekatan, Syilla biasa berangakat dan pulang sekolah bersama Latisya, teman sekelasnya, dengan berjalan kaki. Yang kebetulan rumah mereka berada dalam satu kompleks yang sama.  “Huhh.. panas banget ya hari ini.” keluh Syilla sambil mengusap keringat di dahinya. “Iya nih Syill,beli es yuk!” ajak Latisya kepada Syilla.Ketika merogoh saku seragamnya ternyata uang jajannya sudah habis. “Hmmm.. maaf kayakya aku gak beli es deh, kata Bunda gak boleh kebanyakan minum es. Gak baik buat kesehatan.” alasan Syilla kepada Latisya. Walaupun sebenarnya Syilla memang ingin membeli es, namun bagaimana lagi, uang jajannya memang sudah habis. Uang jajan Syilla memang relatif sedikit jika dibanding dengan teman-temannya. Ia hanya diberi uang saku Rp.3000,00. Bunda memang sengaja hanya memberi uang saku yang sedikit kepada Syilla, sebab Bunda mengajarkan Syilla agar bisa belajar hemat dan dapat menyisihkan sedikit uang sakunya untuk ditabung. Walaupun sebenarnya Syilla terlahir dari keluarga yang berkecukupan.
Sesampainya di rumah...
            “Assalamu’alaikum.Bun,Syilla pulang.” ucap Syilla dengan suara yang terdengar lelah. “Wa’alaikumsalam.segera ganti baju Kak, shalat dzuhur, setelah itu makan siang.” perintah Bunda. “Iya,Bun.” jawab Syilla seraya menuju kamar. Setelah selesai makan, Bunda memanggil Syilla. “Kakak!” “Iyaa Bun.” jawab Syilla, “Kak, Bunda minta tolong nanti sore antarkan pesanan kue ke rumah Bu Milla, setelah itu Kakak bantu Bunda beresin rumah ya!” ungkap Bunda sambil menyelesaikan pembuatan kue pesanan. “Iya Bunda.” jawab Syilla.
Bunda Ifa memang memiliki usaha kue kecil-kecilan yang telah dirintis 1 tahun belakang. Tak jarang Syilla juga ikut serta membantu Bunda membuat kue atau sekedar mengantarkan pesanan. Karena hal tersebut, Syilla ingin menjadi seorang koki. Syilla adalah anak yang patuh, Syilla tak pernah membantah nasihat Ayah dan Bunda. Syilla juga anak yang rajin, sopan dan cerdas. Tak heran jika Syilla selalu mendapatkan peringkat 1 di kelasnya. Begitupun dengan Ayah dan Bunda, beliau adalah orangtua yang tegas dan bijak dalam mendidik anak-anaknya. Sehingga, Syilla tumbuh menjadi gadis cilik yang berakhlakul karimah.
            Mentari mulai menyembunyikan sinarnya dan bulan mulai menyapa sang bintang. Seusainya belajar, Syilla bergegas tidur. Ia terlihat begitu lelah. Yap tentu saja, hari ini dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang menguras tenaga Arsyilla.
            Embun yang menebarkan bau asa mulai hadir di pagi buta. “Kringg.. kringg.. kringg..” alarm berbunyi tepat pukul 04.30 WIB, bunyi alarm yang selalu membangunkan si cantik Syilla di setiap paginya. Syilla pun segera mandi dan melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat subuh, Syilla membantu Bunda untuk membersihkan rumah, walaupun hanya pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Seperti menyapu, membersihkan kaca dan membantu Bunda menyiapkan sarapan.
Pukul 06.15 WIB
            “Ayah,Kakak... Ayo sarapan!” ajak Bunda seraya membersihkan piring dengan kain lap. “Bun,hari ini Ayah pulang lebih malam. Soalnya, ada meeting dengan client.” Ungkap Ayah. “Iya Yah, semoga lancar ya Yah.” harap Bunda. “Aminnnnnnn....” ucap Ayah dan Syilla serentak. “Ohiya Kak, karena nanti Ayah pulang malem. Kakak ikut Bunda ke pasar yuk! buat beli bahan-bahan kue.” ajak Bunda bersemangat. “Siap Bunda!” jawab Syilla dengan senyum manisnya. Karena Syilla berfikir jika ia membantu Bunda membuat kue sejak dini, ia akan menjadi koki yang hebat nantinya.
            Sore pun tiba, Bunda Ifa dan Syilla segera bergegas ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Setelah mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, mereka segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,pukul 17.00 WIB
            Bunda mulai mempersiapkan peralatan untuk membuat kue, saat itu Bunda yang begitu kerepotan dan untuk kesekian kalinya Bunda meminta tolong kepada Syilla untuk menjaga Arsya, yang saat itu sedang bermain lego di kamar. “Kak,tolong jagain Arsya ya.” Minta Bunda. “Siap Bun.” Jawab Syilla pada Bunda.
            Setelah itu, Syilla pun bergegas ke kamar untuk menjaga Arsya yang sedang bermain lego, dan Syilla juga ikut bermain dengan boneka panda dan beruang kesukaannya. Semakin lama Syilla semakin asyik dengan dunia imajinasinya, sampai-sampai ia lengah terhadap Arsya.Dan tiba-tiba, “Brukkkkkk...!” terdengar suara sesuatu yang terjatuh. Setelah Syilla menoleh ke arah belakang, dan ternyata... suara itu berasal dari Arsya yang terpeleset mainan lego yang berserakan di lantai kamar dan membuatnya menangis begitu kencang. Sampai-sampai Bunda Ifa terkejut dan menghampiri. “Ya Allah.. Arsya!” teriak Bunda yang amat terkejut dengan kejadian itu. Dan Bunda segera menggendong Arsya serta membuatnya tenang. “Kakak gimana sih! kan Bunda minta tolong Kakak untuk menjaga Arsya, kok malah ceroboh seperti ini?!” amarah Bunda yang meluap-luap. “Ma.. maaf Bun,Syilla gak tau kalau Arsya terjatuh.” jawab Syilla dengan terbata-bata. “Kalau Bunda minta tolong yang amanah dong kak!” nasihat bunda dengan nada tinggi kepada Syilla. “Iya Bun,maafkan Syilla.” jawab Syilla dengan perasaan bersalah.
Setelah kejadian itu, tak terasa adzan magrib telah berkumandang. Bunda Ifa dan Syilla pun melaksanakan shalat magrib berjama’ah. 

Waktu menunjukan pukul 19.00 WIB
            Saat Arsya telah tertidur lelap, Bunda mulai menyiapkan bahan-bahan pembuatan kue, untuk segera mengolahnya agar lekas selesai. Karena besok pagi harus di antarkan kepada Bu Ita, pemesan kue. “Kakak..! tolong ambilkan ini.. Kakak! tolong ambilkan itu..!!” perintah Bunda kepada Syilla. Setelah Syilla selesai membantu Bunda, Syilla yang terlihat sangat lelah,segera memasuki kamarnya. “Kenapa sih Bunda selalu minta tolong kepadaku? minta tolong ini, minta tolong itu. Kayaknya ada aja pekerjaan yang harus aku lakukan, padahal Bunda kan tau kalau terkadang aku masih lelah dengan kegiatan-kegiatanku yang lain. Belum lagi harus mendapat omelan di setiap harinya, selalu aku di anggap salah. Dan lagi-lagi Arsya  yang selalu di bela. Apa Bunda emang gak sayang aku?” gumam Syilla dalam hati dengan ekspresi cemberut. “Hmmm.. kalau gini caranya, mending aku buat daftar harga saja deh.” Fikir polos Syilla dengan wajah bahagia. Tanpa fikir panjang, ia pun segera membuat daftar harga yang esok akan ia berikan kepada Bunda Ifa.
                      
Dari     Arsyilla                                                                                        Untuk   Bunda
1.      Jagain adek                                       : Rp.3000
2.      Membereskan rumah                        :Rp.3000
3.      Mengantarkan pesanan kue           :Rp.2000
4.     Menyapu                                           :Rp.2000
5.      Membersihkan kaca                         :Rp.2000
6.     Membantu Bunda ke pasar             :Rp.2000
7.     Membantu membuat kue                 :Rp.3000
Oke.. makasih Bunda J



            Keesokan harinya surat ini pun di berikannya kepada Bunda, seraya pamit berangakat sekolah. “Bun, ini surat buat Bunda. Tapi bacanya setelah Syilla berangkat ya Bun.” ungkap Syilla dengan gugup dan perasaan yang tidak karuan. Namun, ia tetep mengharapkan rupiah-rupiah tersebut diberikan Bunda kepadanya. Setelah Syilla bergegas menuju sekolah, Bunda mulai membaca suratnya. Ketika Bunda membaca surat pemberian Syilla, Bunda Ifa hanya tersenyum. Setibanya Syilla pulang sekolah dan tiba di rumah, Bunda Ifa membalas suratnya dan memberikannya kepada Syilla.
 Dari    Bunda yang selalu menyayangi Syilla                    
 Untuk  Syilla tersayang             
1.      Mengandung selama 9 bulan                      :  GRATIS
2.      Melahirkan Syilla                                        :  GRATIS
3.      Menyusui Syilla                                          :  GRATIS
4.     Menggendong Syilla                                   :  GRATIS
5.      Membesarkan Syilla                                    :  GRATIS
6.     Mendidik Syilla                                           :  GRATIS
Bunda mencintai Syilla,tulus tanpa syarat

L

ove,Bunda..



 




            Setelah Syilla membacanya, tak terasa air mata jatuh di kedua pipinya. Ia segera menghampiri Bunda dan memeluknya dengan erat. Kini Syilla memahami dan mengerti, bahwa segala nasihat dan perintah yang di lantunkan Ayah dan Bunda adalah bentuk kasih sayang beliau kepada Syilla, dan semata-mata agar Syilla menjadi anak yang mandiri dan berbakti kepada kedua orang tua. “Bunda maafin Syilla ya...” ungkap Syilla yang berderai air mata. “Iya Sayang, Bunda sayang banget sama Syilla.” jawab Bunda seraya mengelus lembut rambut panjang Arsyilla. “Terimakasih Bunda,atas kasih sayang yang tak pernah usai, nasihat-nasihat yang Bunda lantunkan setiap waktu, hingga menjadikanku lebih baik lagi. Arsyilla sayang Bunda!” ungkap Syilla kepada Bunda.
            Akhirnya, Arsyilla mengerti arti yang sesungguhnya jasa orang tua, terutama seorang Ibu. Kasih sayang dan jasa orang tua tidak dapat di bandingkan dengan apapun, bahkan jika kita memiliki emas sebesar gunung Hud pun tidak dapat menandinginya.


Cerpen ini di buat oleh Najla Syifa Hudzaifah,ia lahir di Bekasi,17 Juni 2001.Kini ia duduk di kelas XI IPS,MA ABDULLAH,Kediri,Jawa Timur. Semoga pembaca tertarik dengan cerpen ini dan kita semua dapat memetik hikmah di dalamnya.

Ketika Siswa Tak Punya Mimpi

  Ketika Siswa Tak Punya Mimpi: PR Besar yang Sering Kita Lewatkan Oleh: Iva Lutfiyati, S.Pd. Potret Mimpi Masa Depan Para Siswa MTsN 7 ...