Rabu, 05 Agustus 2026

Ketika Siswa Tak Punya Mimpi

 

Ketika Siswa Tak Punya Mimpi:

PR Besar yang Sering Kita Lewatkan

Oleh: Iva Lutfiyati, S.Pd.

Potret Mimpi Masa Depan Para Siswa MTsN 7 Nganjuk

 "Besok kalau sudah besar ingin jadi apa?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Hampir setiap anak pernah mendengarnya. Namun, ketika pertanyaan yang sama saya ajukan kepada siswa-siswa di kelas, tidak sedikit yang hanya tersenyum, saling menatap temannya, lalu menggeleng pelan. Mereka tidak benar-benar tahu harus menjawab apa. Bukan karena mereka malas bermimpi. Bukan pula karena mereka tidak memiliki cita-cita. Sering kali mereka hanya belum pernah diajak memikirkan masa depan secara sungguh-sungguh.



Sekilas persoalan ini tampak sepele. Padahal, di balik kebingungan itu tersimpan persoalan yang jauh lebih besar. Anak yang belum memiliki arah cenderung kehilangan alasan  mengapa ia harus belajar. Ketika tujuan tidak terlihat, belajar hanya menjadi rutinitas yang dijalani setiap hari, bukan kebutuhan yang lahir dari kesadaran.

Temuan Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD menunjukkan bahwa motivasi, aspirasi, dan rasa memiliki tujuan berkaitan erat dengan keterlibatan siswa dalam proses belajar. Anak yang mampu melihat hubungan antara pembelajaran di sekolah dengan masa depannya cenderung lebih bertahan menghadapi tantangan dan lebih termotivasi untuk berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik membangun arah hidup.

Sebagai guru Bahasa Indonesia di MTsN 7 Nganjuk, saya cukup sering menjumpai kondisi tersebut. Banyak siswa yang belum mampu membayangkan kehidupan yang ingin mereka jalani beberapa tahun ke depan. Mereka mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai yang cukup baik, tetapi belum memiliki gambaran tentang impian yang ingin mereka perjuangkan. Padahal saya percaya, setiap anak sesungguhnya memiliki potensi untuk bermimpi. Yang sering kali belum mereka miliki adalah ruang, bimbingan, dan kesempatan untuk mengenali mimpi itu. 

Ketika Cita-Cita Menjadi Bahan Bakar Belajar

Selama empat belas tahun mengajar, saya melihat sebuah pola yang terus berulang. Anak-anak yang telah memiliki tujuan karier biasanya menunjukkan sikap belajar yang berbeda. Mereka lebih disiplin, lebih tekun, dan lebih bertahan ketika menghadapi kesulitan. Mereka tidak lagi belajar sekadar mengejar nilai atau memenuhi kewajiban sekolah. Mereka belajar karena memahami bahwa setiap pelajaran merupakan bekal menuju masa depan yang mereka cita-citakan.

Saya masih mengingat seorang siswa yang sejak kelas VII telah bercita-cita menjadi anggota TNI. Sejak saat itu ia mulai melatih fisiknya secara rutin, menjaga kedisiplinan, serta memperbaiki prestasi akademiknya. Tidak ada yang memaksanya melakukan semua itu. Kesadaran tentang tujuan hidupnya sendiri telah menjadi sumber motivasi yang kuat. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa cita-cita bukan sekadar jawaban ketika guru bertanya. Ia adalah kompas yang memberi arah sekaligus bahan bakar yang menjaga semangat belajar tetap menyala.

Pandangan ini juga sejalan dengan berbagai kajian UNICEF yang menekankan pentingnya pengembangan keterampilan hidup (life skills) dan aspirasi sejak usia sekolah. Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengenali diri, mengeksplorasi pilihan, serta memperoleh pendampingan agar mampu mengambil keputusan mengenai masa depannya secara lebih percaya diri.

Pendampingan yang Sering Terlupakan

Sayangnya, perencanaan masa depan masih sering dianggap sebagai urusan anak semata. Kita berharap mereka mampu menentukan pilihan sendiri, padahal pada usia MTs/ SMP mereka masih berada dalam fase mengenali jati diri, bakat, dan minatnya. Di sinilah peran guru dan orang tua menjadi sangat penting. Tugas kita bukan menentukan profesi yang harus mereka pilih, melainkan membantu mereka mengenali potensi yang dimiliki serta memperkenalkan berbagai kemungkinan yang terbuka di masa depan.

Pendampingan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menghadirkan berbagai figur profesi di sekolah, mengajak siswa berdiskusi tentang minatnya, memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, hingga membantu mereka menyusun target-target kecil yang realistis. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi awal bagi tumbuhnya motivasi belajar yang lebih bermakna. Pendampingan semacam ini memang tidak menghasilkan perubahan dalam semalam. Namun, justru melalui percakapan-percakapan sederhana itulah motivasi, rasa percaya diri, dan keberanian untuk bermimpi perlahan tumbuh. 

Mengantar Mereka Menemukan Arah

Kita memang tidak pernah bisa memastikan masa depan seorang anak. Jalan hidup selalu menyimpan banyak kejutan dan misteri. Namun, kita dapat memastikan bahwa mereka tidak berjalan tanpa arah. Saya percaya, masa depan adalah rahasia Tuhan. Akan tetapi, ikhtiar untuk mempersiapkannya merupakan tanggung jawab manusia yang selalu bisa diupayakan.

Mungkin yang dibutuhkan seorang anak bukan sekadar nasihat agar rajin belajar, melainkan seseorang yang bersedia duduk di sampingnya dan bertanya, "Menurutmu, kehidupan seperti apa yang ingin kamu jalani kelak?". Sebab ketika seorang anak mulai menemukan arah, ia tidak lagi belajar karena takut dimarahi, mengejar angka di rapor, atau sekadar memenuhi kewajiban. Ia belajar karena memahami bahwa setiap halaman buku yang ia baca sedang membawanya selangkah lebih dekat kepada masa depan yang ingin ia perjuangkan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar: membantu setiap anak menemukan alasan mengapa ia perlu terus belajar, berani bermimpi, dan menyiapkan langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya. Ketika seorang anak menemukan arah hidupnya, sesungguhnya pada saat itulah pendidikan mulai menunjukkan makna yang paling mendalam.                                           

Tentang Penulis:

Iva Lutfiyati adalah Guru Ahli Pertama Bahasa Indonesia yang berasal dari Kediri. Saat ini, ia aktif menjalankan tugasnya di bidang pendidikan formal dan pengajaran Bahasa di MTsN 7 Nganjuk.

 

 

 

 

 

 

 

Ketika Siswa Tak Punya Mimpi

  Ketika Siswa Tak Punya Mimpi: PR Besar yang Sering Kita Lewatkan Oleh: Iva Lutfiyati, S.Pd. Potret Mimpi Masa Depan Para Siswa MTsN 7 ...