Ketika Siswa Tak Punya Mimpi:
PR Besar yang Sering Kita Lewatkan
Oleh: Iva Lutfiyati, S.Pd.
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Hampir setiap anak pernah mendengarnya. Namun, ketika pertanyaan yang sama saya
ajukan kepada siswa-siswa di kelas, tidak sedikit yang hanya tersenyum, saling
menatap temannya, lalu menggeleng pelan. Mereka tidak benar-benar tahu harus
menjawab apa. Bukan karena mereka malas bermimpi. Bukan pula karena mereka
tidak memiliki cita-cita. Sering kali mereka hanya belum pernah diajak
memikirkan masa depan secara sungguh-sungguh.
Temuan Programme for
International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD menunjukkan
bahwa motivasi, aspirasi, dan rasa memiliki tujuan berkaitan erat dengan
keterlibatan siswa dalam proses belajar. Anak yang mampu melihat hubungan
antara pembelajaran di sekolah dengan masa depannya cenderung lebih bertahan
menghadapi tantangan dan lebih termotivasi untuk berprestasi. Hal ini
menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tetapi juga
membantu peserta didik membangun arah hidup.
Sebagai guru Bahasa Indonesia di MTsN 7 Nganjuk, saya cukup sering menjumpai kondisi tersebut. Banyak siswa yang belum mampu membayangkan kehidupan yang ingin mereka jalani beberapa tahun ke depan. Mereka mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, bahkan memperoleh nilai yang cukup baik, tetapi belum memiliki gambaran tentang impian yang ingin mereka perjuangkan. Padahal saya percaya, setiap anak sesungguhnya memiliki potensi untuk bermimpi. Yang sering kali belum mereka miliki adalah ruang, bimbingan, dan kesempatan untuk mengenali mimpi itu.
Ketika Cita-Cita Menjadi Bahan
Bakar Belajar
Selama empat belas
tahun mengajar, saya melihat sebuah pola yang terus berulang. Anak-anak yang
telah memiliki tujuan karier biasanya menunjukkan sikap belajar yang berbeda.
Mereka lebih disiplin, lebih tekun, dan lebih bertahan ketika menghadapi
kesulitan. Mereka tidak lagi belajar sekadar mengejar nilai atau memenuhi
kewajiban sekolah. Mereka belajar karena memahami bahwa setiap pelajaran
merupakan bekal menuju masa depan yang mereka cita-citakan.
Saya masih mengingat
seorang siswa yang sejak kelas VII telah bercita-cita menjadi anggota TNI.
Sejak saat itu ia mulai melatih fisiknya secara rutin, menjaga kedisiplinan,
serta memperbaiki prestasi akademiknya. Tidak ada yang memaksanya melakukan
semua itu. Kesadaran tentang tujuan hidupnya sendiri telah menjadi sumber
motivasi yang kuat. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa
cita-cita bukan sekadar jawaban ketika guru bertanya. Ia adalah kompas yang
memberi arah sekaligus bahan bakar yang menjaga semangat belajar tetap menyala.
Pandangan ini juga
sejalan dengan berbagai kajian UNICEF yang menekankan pentingnya pengembangan
keterampilan hidup (life skills) dan aspirasi sejak usia sekolah.
Anak-anak membutuhkan ruang untuk mengenali diri, mengeksplorasi pilihan, serta
memperoleh pendampingan agar mampu mengambil keputusan mengenai masa depannya
secara lebih percaya diri.
Pendampingan yang Sering Terlupakan
Sayangnya, perencanaan
masa depan masih sering dianggap sebagai urusan anak semata. Kita berharap
mereka mampu menentukan pilihan sendiri, padahal pada usia MTs/ SMP mereka
masih berada dalam fase mengenali jati diri, bakat, dan minatnya. Di sinilah
peran guru dan orang tua menjadi sangat penting. Tugas kita bukan menentukan
profesi yang harus mereka pilih, melainkan membantu mereka mengenali potensi
yang dimiliki serta memperkenalkan berbagai kemungkinan yang terbuka di masa
depan.
Pendampingan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana: menghadirkan berbagai figur profesi di sekolah, mengajak siswa berdiskusi tentang minatnya, memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, hingga membantu mereka menyusun target-target kecil yang realistis. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi awal bagi tumbuhnya motivasi belajar yang lebih bermakna. Pendampingan semacam ini memang tidak menghasilkan perubahan dalam semalam. Namun, justru melalui percakapan-percakapan sederhana itulah motivasi, rasa percaya diri, dan keberanian untuk bermimpi perlahan tumbuh.
Mengantar Mereka Menemukan Arah
Kita memang tidak
pernah bisa memastikan masa depan seorang anak. Jalan hidup selalu menyimpan
banyak kejutan dan misteri. Namun, kita dapat memastikan bahwa mereka tidak
berjalan tanpa arah. Saya percaya, masa depan adalah rahasia Tuhan. Akan
tetapi, ikhtiar untuk mempersiapkannya merupakan tanggung jawab manusia yang
selalu bisa diupayakan.
Mungkin yang dibutuhkan
seorang anak bukan sekadar nasihat agar rajin belajar, melainkan seseorang yang
bersedia duduk di sampingnya dan bertanya, "Menurutmu, kehidupan seperti
apa yang ingin kamu jalani kelak?". Sebab ketika seorang anak mulai
menemukan arah, ia tidak lagi belajar karena takut dimarahi, mengejar angka di
rapor, atau sekadar memenuhi kewajiban. Ia belajar karena memahami bahwa setiap
halaman buku yang ia baca sedang membawanya selangkah lebih dekat kepada masa
depan yang ingin ia perjuangkan.
Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertugas mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar: membantu setiap anak menemukan alasan mengapa ia perlu terus belajar, berani bermimpi, dan menyiapkan langkah-langkah nyata untuk mewujudkannya. Ketika seorang anak menemukan arah hidupnya, sesungguhnya pada saat itulah pendidikan mulai menunjukkan makna yang paling mendalam.
|
|




